Wali Santri Tetap Menginginkan KBM Masuk Meski Akses Jalan Terendam Banjir


Dimusim penghujan yang disertai banjir, tentunua, berdampak langsung pada kehidupan masyarakat, termasuk para wali santri dan santri Yayasan Mazro’atul Akhiroh Pucangtelu yang posisinya diluar lokasi sekitar yayasan (baca : Santri dari luar dusun) . Sejumlah wali santri harus menghadapi kondisi jalan yang tergenang air, bahkan sebagian rumah mereka ada yang turut terdampak banjir. Situasi ini tentu menimbulkan kekhawatiran, terutama terkait keselamatan dan kenyamanan anak-anak saat berangkat menimba ilmu.

Melihat kondisi tersebut, pihak pengelola yayasan sejatinya telah menunjukkan kepedulianya, dengan mengambil inisiatif kebijakan yang mengutamakan keselamatan dan kenyamanan santri, sekaligus meringankan beban wali santri, yakni dengan meliburkan sementara waktu-kegiatan belajar mengajar (KBM). Namun di luar dugaan, inisiatif tersebut justru mendapat penolakan dari mayoritas wali santri. Mereka menginginkan agar KBM tetap berjalan normal seperti sedia kala, meskipun berada di tengah kondisi musim penghujan dan banjir.

Usulan tersebut disampaikan oleh pengelola yayasan melalui grup WhatsApp wali santri dengan diawali pertanyaan: Apakah KBM perlu diliburkan sementara waktu di musim penghujan dan banjir? . Dari hasil musyawarah daring tersebut, sekitar 90 persen wali santri menyatakan tidak setuju jika KBM diliburkan, sementara sebagian kecil lainnya menyetujui libur sementara. Dengan mempertimbangkan suara mayoritas, akhirnya diputuskan bahwa KBM tetap dilaksanakan seperti hari-hari biasa.

Alasan para wali santri dinilai cukup masuk akal. Mereka khawatir banjir yang menggenang tidak dapat dipastikan kapan akan berakhir. Jika KBM terlalu lama diliburkan, dikhawatirkan anak-anak akan menjadi malas belajar ketika kondisi sudah kembali normal. Selain itu, para orang tua juga beranggapan bahwa jika KBM diliburkan, anak-anak justru akan lebih banyak bermain, dan keliatan kemana-mana, termasuk bermain air di depan rumah yang berpotensi membahayakan keselamatan. Atas dasar pertimbangan tersebut, wali santri tetap meminta agar KBM terus berjalan seolah tidak terjadi apa-apa.

Perjuangan para wali santri pun tidaklah ringan. Bagi mereka yang akses jalannya terendam banjir, sebagian harus memutar melewati jalur alternatif yang sedikit lebih jauh namun tidak tergenang air. Namun ada pula yang tetap melewati jalan yang terendam banjir, meskipun harus menghadapi risiko jalan licin dan pakaian basah.

Debit air banjir pada musim penghujan kali ini memang lebih tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Di beberapa titik, Sepeda motor kerap mogok jika posisi mesinnya motor rendah, dan pakaian mudah basah jika tidak disiasati dengan baik.

Inilah bentuk perjuangan luar biasa para wali santri yang patut diapresiasi. Demi menjaga putra-putrinya tetap istiqamah dalam belajar agama, mereka rela menerobos genangan banjir, meskipun harus lelah, menghadapi risiko, dan pulang dengan tubuh serta pakaian basah.

Sikap tersebut semestinya menjadi beban moral sekaligus pengingat bagi institusi pendidikan. Kepercayaan dan pengorbanan wali santri harus dibalas dengan kesungguhan lembaga dalam mendidik, membina, dan memfasilitasi anak-anak agar tumbuh menjadi pribadi yang berilmu, berakhlak, serta sesuai dengan harapan orang tua.

Pengelola yayasan dituntut untuk benar-benar serius dalam mengelola lembaga pendidikan agar kualitas lulusan sebanding dengan perjuangan dan kepercayaan luar biasa yang telah diberikan para wali santri. Sebab jika tidak, lembaga pendidikan dapat dinilai gagal dalam mengapresiasi amanah dan harapan yang telah dititipkan. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Belajar dari Praktisi, Ikhtiar Pengurus Yayasan Mazroatul Akhiroh Bangun Usaha Peternakan Menuju Pesantren Mandiri

Kyai Muayyad Hadiri Acara Khotaman dan Intihan LPD Guru Upgrade Angkatan ke-01 Koorcam Kalitengah

Rapat Pengurus Persiapan Kegiatan MMQ Kecamatan Kalitengah serta Haul Akbar dan Khotaman–Imtihan Santri TPQ