Membingkai Masa Depan Islami yang Melek Huruf dan Melek Realitas
Yayasan Mazro’atul Akhiroh Pucangtelu Hadir di Tengah Masyarakat Desa Pucangtelu
Di tengah dinamika perkembangan zaman yang kian kompleks, peran seorang ustadz tidak lagi dapat dipahami sebatas figur mimbar dakwah semata. Hari ini, seorang ustadz dituntut untuk hadir langsung di tengah masyarakat—menjemput bola—menjadi penggerak sosial, pendamping komunitas, sekaligus pengampu dan perumus arah lembaga pendidikan, mulai dari pesantren, sekolah, hingga institusi pendidikan nonformal berbasis masyarakat.
Gambaran tersebut di sampaikan gamblang oleh Ustadz H. Hizbullah Huda, yang lebih akrab disapa Wak Kaji Jebul. Ia dikenal sebagai ustadz yang unik, realistis, dan relevan dengan perkembangan zaman. Sebagai salah satu pendidik di Yayasan Mazro’atul Akhiroh Pucangtelu, beliau konsisten menggunakan pendekatan persuasif dan ilmiah yang membumi, dipadukan dengan gaya warungan yang komunikatif serta cara pandang kontekstual dalam berdakwah dan mendidik.
Pengaruhnya tidak hanya terasa melalui ceramah formal, tetapi juga melalui ruang-ruang nonformal seperti cangkruan, jagongan ilmiah, diskusi warung, serta keterlibatan langsung dalam dunia pendidikan dan pendampingan masyarakat.
Dari Guru hingga Pembina Institusi
Latar belakang pendidikan Wak Kaji Jebul dibentuk melalui proses panjang di berbagai institusi, baik formal maupun nonformal.
Pada jalur pendidikan formal, beliau menempuh studi keislaman di UIN Sunan Ampel Surabaya dan Universitas Sunan Giri Surabaya. Selain itu, ia juga mengembangkan kompetensi pendidikan umum dan kreativitas melalui Darwis Triadi School of Photography, yang membentuk kepekaan visual serta kemampuan membaca realitas sosial secara lebih luas.
Pada jalur pendidikan nonformal, beliau mengenyam pendidikan pesantren di:
Pondok Pesantren Darul Ma’arif Payaman, di bawah bimbingan KH. Achmad Rofie’ Rahman, dzurriyah Bani KH. Musthofa.
Pondok Darur Rahman Sendangagung, Paciran, tempat beliau memperdalam kajian kitab kuning dan ilmu alat di bawah asuhan Kiai Thohir, menantu Kiai Shiddiq Malang.
Beliau juga mengikuti berbagai kursus penunjang, seperti bahasa Inggris dan komputer di LKK Darul Ma’arif Payaman serta Children English Course. Perpaduan ini memperkuat kemampuannya menjembatani tradisi pesantren dengan kebutuhan kompetensi masyarakat modern.
Aktivisme Organisasi dan Pengalaman Profesional
Dalam dunia organisasi dan sosial kemasyarakatan, Wak Kaji Jebul memiliki rekam jejak panjang dan lintas sektor. Ia aktif di berbagai organisasi, antara lain:
Karang Taruna Kabupaten Lamongan
Karang Taruna Provinsi Jawa Timur
Forum BLK Kabupaten Lamongan
PMII
GP Ansor Jawa Timur
Ia juga pernah menjadi anak asuh PT Djarum RSO Surabaya melalui program Beswan Djarum, yang membentuk perspektif kepemimpinan, kemandirian, dan pengembangan potensi generasi muda.
Secara profesional, beliau pernah mengabdi sebagai:
Guru di SMK dan MAU Darul Ma’arif Payaman selama ±7 tahun
Pendamping di BNN Kabupaten Lamongan selama ±3 tahun
Anggota FKS Bappeda selama ±2,5 tahun
Seluruh pengalaman tersebut menjadi bekal penting dalam merumuskan pendidikan Islam yang holistik—berakar pada nilai Qur’ani, namun tetap peka terhadap realitas sosial, perkembangan teknologi, dan kebutuhan masyarakat desa.
Sanad, Dzurriyah, dan Akar Sosial Yayasan
Keberadaan Yayasan Mazro’atul Akhiroh Pucangtelu, yang berlokasi di Dusun Prambon, Desa Pucangtelu, Kecamatan Kalitengah, Kabupaten Lamongan, tidak dapat dilepaskan dari sanad keilmuan dan garis perjuangan keluarga besar yang telah lama berkhidmah di bidang agama, pendidikan, dan sosial kemasyarakatan.
Pimpinan agama setempat pada masanya adalah Kiai Sholihin, kakek dari istri Wak Kaji Jebul, Khusnul Khotimah, yang merupakan cucu sesepuh Dusun Prambon. Secara genealogis, garis keturunan ini bermula dari Kiai Sholeh, dengan putra-putri antara lain Kiai Sholikhin, Mbah Muhammad, Mbah Salam, Mbah Harun, dan Ibu Siti. Dari Ibu Siti lahir Masmuin yang menikah dengan Ibu Sukartining dan dikaruniai putri bernama Khusnul Khotimah, yang kemudian dipersunting oleh Ustadz H. Hizbullah Huda.
Secara dzurriyah, Wak Kaji Jebul melanjutkan jejak perjuangan para kiai, pamong desa, dan tokoh masyarakat yang telah lama berkhidmah di Desa Pucangtelu, khususnya Dusun Prambon. Karena itu, gerakan melek huruf dan melek realitas yang ia dorong bukan sekadar gagasan personal, melainkan kelanjutan amanah sejarah sosial desa.
Beliau juga terhubung dengan keluarga besar KH. Achmad Ghufron (Dusun Dukuhan) serta almarhum Mbah H. Abdul Ghofar (Mbah Bau Kentong)—tokoh desa, pamong, dan pejuang sosial-keagamaan di Dusun Kentong. Jejak pengabdian mereka masih hidup dalam ingatan kolektif masyarakat Pucangtelu.
Sejarah Berdirinya Yayasan Mazro’atul Akhiroh
Yayasan Mazro’atul Akhiroh Pucangtelu berdiri melalui proses panjang dan penuh perjuangan. Cikal bakalnya bermula dari almarhum Kiai Mustakim, yang mendirikan surau dan musholla sederhana sebagai pusat ibadah dan pengajaran Al-Qur’an bagi masyarakat. Beliau berasal dari Gowah, Turi, Lamongan, dan menikah dengan warga Dusun Prambon.
Perjuangan ini dilanjutkan oleh Mbah Djiman, warga asli Dusun Prambon, yang dengan kesederhanaannya merawat musholla dan aktivitas keagamaan. Dalam doa-doanya, beliau berharap Allah menghadirkan generasi penerus yang mampu merawat pendidikan agama di dusun tersebut.
Sekitar tahun 2010-an, perjuangan ini dilanjutkan oleh Bapak Mahfudz (suami Ibu Munawaroh), keluarga besar Kiai Mustakim. Beliau memulai program TPQ metode Qiroati dan berhasil meluluskan satu angkatan khotaman dan imtihan.
Pada 25 September 2012, perjuangan ini dikembangkan bersama H. Hizbullah Huda. Dari TPQ, berkembang menjadi Madrasah Diniyah Awwaliyah, pembelajaran bahasa Inggris, dan komputer. Dari sinilah lembaga berbasis musholla berkembang menjadi yayasan dengan nama Mazro’atul Akhiroh.
Seiring bertambahnya santri dari luar dusun dan kebutuhan manfaat yang lebih luas, nama yayasan disempurnakan menjadi Yayasan Mazro’atul Akhiroh Pucangtelu, dengan harapan memberi manfaat bagi seluruh masyarakat Desa Pucangtelu dan sekitarnya.
Perjalanan ini ditempuh dengan penuh keterbatasan—bermodal doa, keikhlasan, dan perjuangan. Berawal tanpa lahan, hingga memperoleh wakaf tanah dari Ibu Sini dan Mbah Djiman, serta mampu membeli lahan tambahan. Alhamdulillah, kini yayasan memiliki gedung dan sarana pembelajaran yang lebih layak dan nyaman.
Visi Pendidikan Berbasis Qur’ani dan Melek Realitas
Visi besar pendidikan yang diusung adalah:
“Membumikan Al-Qur’an hari ini, esok, dan akan datang dengan berbasis melek realitas.”
Setiap disiplin ilmu—agama, sains, maupun teknologi—harus berpijak pada Al-Qur’an dan As-Sunnah, sekaligus mampu menjawab tantangan zaman digital, derasnya arus informasi, dan perubahan budaya global.
Karena itu, inovasi metode pembelajaran, penguatan literasi, dan peningkatan kualitas pendidik menjadi fokus utama di Yayasan Mazro’atul Akhiroh Pucangtelu.
Dampak dan Inspirasi
Kehadiran Yayasan Mazro’atul Akhiroh Pucangtelu menunjukkan bahwa dakwah dan pendidikan adalah dua sisi mata uang yang saling menguatkan. Melalui yayasan ini, diupayakan lahir generasi yang melek huruf, melek realitas, berilmu, berakhlak, dan siap mengabdi.
Di tangan para pejuang desa, pendidikan Islam tidak hanya bertahan sebagai warisan, tetapi terus tumbuh dan berevolusi—merangkul modernitas tanpa kehilangan nilai, demi kemaslahatan umat hari ini dan masa depan.




Komentar
Posting Komentar