Hujan Tak Surutkan Semangat Santri TPQ Pagi Yayasan Mazro’atul Akhiroh Pucangtelu








Hujan lebat yang turun hampir setiap pagi dalam beberapa hari terakhir ini, tidak menyurutkan semangat anak-anak santri TPQ Pagi Yayasan Mazro’atul Akhiroh Pucangtelu. Meski kegiatan belajar mengajar (KBM) kerap diawali dengan guyuran hujan, bahkan sebagian akses jalan menuju lokasi pembelajaran sempat terendam banjir, pelaksanaan pembelajaran tetap berjalan normal seperti biasanya. Menariknya, baik santri maupun wali santri tetap konsisten hadir dan tidak pernah membolos.
TPQ Pagi merupakan program terbaru di Yayasan Mazro’atul Akhiroh Pucangtelu yang baru berjalan beberapa bulan. Saat ini, program tersebut diikuti oleh 14 santri. Berbeda dengan TPQ pada umumnya yang dilaksanakan pada sore hari, TPQ Pagi dikhususkan bagi anak usia dini, yakni mulai usia 3 tahun 11 bulan hingga maksimal 5 tahun. Apabila usia anak telah melebihi 5 tahun, maka santri tersebut akan dimerger ke dalam program TPQ sore hari.
Penyebutan “TPQ Pagi” bukan semata-mata merujuk pada waktu pelaksanaan pembelajaran. Program ini bukan hanya berlangsung pada pagi hari, melainkan dilaksanakan dua kali dalam sehari, yaitu pada waktu pagi dan sore. Dengan demikian, TPQ Pagi lebih tepat dipahami sebagai program khusus yang bersifat intensif dan eksklusif (VIP), bukan sekadar pembagian waktu belajar.
Target pembelajaran TPQ Pagi ditetapkan selama tujuh bulan. Dalam rentang waktu tersebut, anak-anak usia dini dibimbing secara intensif agar mampu mengikuti khotaman dan imtihan Al-Qur’an. Meskipun usia mereka masih sangat belia, lembaga berupaya memberikan stimulasi pembelajaran yang optimal melalui pendampingan yang serius, terarah, dan berkelanjutan.
Program TPQ Pagi ini dinilai sangat istimewa. Selain menjadi wadah pendidikan Al-Qur’an sebelum usia 5 tahun, program ini juga dipersiapkan sebagai gerbang awal bagi santri untuk melanjutkan ke program tahfidz usia dini (Program PTPT) setelah mencapai batas usia yang ditentukan. Dengan konsep ini, lembaga optimistis mampu mencetak generasi hafidz dan hafidzah sejak usia bocil secara lebih sistematis dan berkesinambungan.
Dalam pelaksanaannya, pembelajaran TPQ Pagi dilakukan dengan sungguh-sungguh. Dari total 14 santri, mereka dibimbing oleh tiga orang guru, sehingga setiap guru maksimal mendampingi lima anak. Setiap sesi tatap muka berlangsung selama 90 menit, dengan pembagian 45 menit untuk materi kelas dan 45 menit sisanya untuk materi peraga. Metode ini dipilih agar anak-anak tidak mudah jenuh, pendampingan dapat dilakukan secara maksimal, serta proses belajar berlangsung dalam suasana yang menyenangkan.
Meski waktu pembelajaran terbilang singkat, pihak lembaga telah mempertimbangkan kondisi santri yang setelah mengikuti TPQ Pagi harus melanjutkan aktivitas pendidikan di program TK-PAUD. Oleh karena itu, manajemen waktu dan metode pembelajaran dirancang seefektif mungkin agar tujuan pendidikan tetap tercapai tanpa membebani anak.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Belajar dari Praktisi, Ikhtiar Pengurus Yayasan Mazroatul Akhiroh Bangun Usaha Peternakan Menuju Pesantren Mandiri

Kyai Muayyad Hadiri Acara Khotaman dan Intihan LPD Guru Upgrade Angkatan ke-01 Koorcam Kalitengah

Rapat Pengurus Persiapan Kegiatan MMQ Kecamatan Kalitengah serta Haul Akbar dan Khotaman–Imtihan Santri TPQ